BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK

Berpikir Sebelum Bertindak
2 Samuel 18:1-18

Bak makan buah simalakama. Serba salah. Baik kalah atau menang, tetap kalah. Itulah pertempuran yang harus dilakukan Daud melawan anaknya sendiri, Absalom. Perang saudara di antara orang Israel. Yoab melarang, Daud memimpin langsung pertempuran ini karena kematiannya dapat menyebabkan kekacauan negara. Daud memerintahkan untuk mempertahankan nyawa Absalom, demi dirinya. Perintah ini menjadi permohonannya. Permohonan seorang ayah supaya anaknya jangan dibunuh. Daud sadar, perang saudara ini terjadi karena kesalahannya sebagai ayah dan raja. Anak dan sebagian rakyatnya memberontak terhadap pemerintahannya. Peristiwa ini juga merupakan penggenapan nubuatan Natan (2).

Peperangan ini dimenangkan oleh tentara Daud. Selain kekuatan jumlah orang dan pengalaman, kemenangannya juga didukung oleh faktor alam. Lokasi pertempuran yang sulit (hutan lebat) menguntungkan pihak Daud. Proses kematian Absalom juga didukung faktor alam ini. Kepalanya tersangkut di dahan pohon. Lalu Yoab dan anak buahnya membunuhnya. Hal ini dilakukannya demi menjaga Daud sebagai raja, menjaga kerajaan, melindungi tentaranya, dan rakyat Israel dari pertumpahan darah lebih lanjut. Kematian Absalom akan mengakhiri perang saudara itu.

Semasa hidupnya, Absalom membangun tugu peringatan. Tugu itu menjadi peringatan riwayat hidup Absalom dan sejarah kemanusiaan. Kisahnya penuh intrik politik, drama, kekerasan, dan tragedi. Kisah yang panjang ini menggambarkan banyak kegagalan manusia dalam mengasihi, menahan nafsu (Daud terhadap Batsyeba, Amnon kepada Tamar, Absalom menguasai kerajaan), dan mengampuni. Kisah ini menggambarkan dosa dan dampaknya yang merusak.Kadang kita bertindak tanpa memikirkan dampaknya. Kita bermain dengan dosa tanpa memikirkan akibatnya pada diri kita dan orang-orang yang kita kasihi.

Kawan Sejati

Kawan Sejati
2 Samuel 15:13-37

Kawan yang setia di sisi kita pada saat kita mengalami kesusahan adalah teman sejati.

Daud dikhianati anaknya sendiri. Absalom melakukan kudeta. Banyak orang Israel berbalik mendukung Absalom. Bukan hanya kehilangan takhta, nyawa pun terancam. Daud terpaksa meninggalkan istana. Sepanjang perjalanan, muncul tokoh-tokoh yang tetap setia kepadanya. Salah satu kawan sejati Daud adalah Itai.

Dikisahkan bahwa pegawai istana, orang Kreti, Pleti, dan Gat (sekitar 600 orang) melarikan diri bersama Daud. Di antaranya adalah pengawal pribadi raja, termasuk Itai (orang Filistin). Ketika Daud melarikan diri dari Raja Saul yang ingin membunuhnya, ia bersembunyi di gua Adulam. Di situ ia bertemu dengan 30 orang pelarian dari berbagai bangsa. Bersama mereka, Daud membentuk kelompok Adulam. Mereka menjadi pasukan yang kuat dan setia kepada Daud.

Setelah Daud menjadi raja, tim elite ini merekrut tentara baginya. Itai orang baru. Ia tidak punya riwayat bersama Daud. Lagi pula, masa depan Daud tidak jelas. Bisa jadi Absalom menangkap dan membunuh Daud dan semua pengikutnya. Maka, Daud menyuruhnya tinggal, melayani Absalom, yang sebentar lagi akan menguasai istana. Itai bersikukuh: “Demi TUHAN yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuanku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada” (21). Kesetiaannya bukan demi Daud , tetapi juga demi Tuhan.

Daud tahu kejadian yang menimpanya merupakan penggenapan nubuatan nabi Natan atas perbuatannya terhadap Batsyeba dan Uria (2Sam 12:10-11). Itai tetap setia, meski tidak ada alasan baginya untuk bersikap demikian. Hal ini menggambarkan kesetiaan Tuhan. Meskipun Daud manusia berdosa, Ia tidak meninggalkannya.

Daripada mengeluh dan menyalahkan Tuhan pada saat susah, lebih baik memfokuskan diri kepada orang-orang yang tetap ada di sisi kita. Merekalah kawan sejati. Mereka menunjukkan kesetiaan dan pertolongan Tuhan pada saat paling dibutuhkan.

Menantikan Keadilan

Menantikan Keadilan
2 Samuel 15:1-12

Apa yang akan kita lakukan saat melihat ketidakadilan? Terkadang sulit untuk menunggu yang berwenang berbuat sesuatu, apalagi kalau yang berwenang tidak bertindak.

Pada masa itu, raja bertindak sebagai hakim. Sejak subuh raja dan wakil-wakilnya menerima pengaduan warga yang butuh diselesaikan perkaranya secara adil. Tamar diperkosa oleh Amnon. Selama dua tahun Raja Daud tidak berbuat apa-apa. Karena itu, Absalom membunuh Amnon (2Sam 13:1-30).

Tiga tahun Absalom hidup dalam pelarian dan dua tahun dikucilkan dari istana. Ia ingin kejelasan sikap Raja Daud, ayahnya. Apakah ia dipandang bersalah? Jika pengucilan ini hukuman, sampai kapan ia harus menjalaninya? Mungkin Absalom kecewa dan tidak puas akan sikap Raja Daud yang sengaja mendiamkan kasus pemerkosaan terhadap adiknya. Akhirnya, ia hendak mengudeta ayahnya sendiri. Rakyat yang mau mengadukan perkara kepada raja, dipanggilnya. Ia berjanji bahwa jika ia diangkat menjadi raja, ia akan menyelesaikan perkara mereka dengan adil. Begitulah Absalom mendapat simpati rakyat.

Tidak selalu mudah untuk menentukan sikap ketika kita melihat ketidakadilan. Apakah harus menunggu yang berwenang bertindak? Bila harus berbuat sesuatu, sejauh mana kita boleh bertindak? Bila bertindak menegakkan keadilan, apa motivasi kita? Apakah murni untuk menolong orang dan memperbaiki sistem, atau karena didorong perasaan diri yang paling benar?

Tindakan Absalom main hakim sendiri memakan korban. Kudeta yang dilancarkannya membuat kerajaan terpecah dan memakan banyak korban. Merasa diri lebih mampu menegakkan keadilan ketimbang ayahnya, malah mengakibatkan kejatuhannya dan tidak membawa kebaikan bagi siapa pun. Kita perlu berhati-hati dalam menimbang perkara. Mati-matian membela korban belum tentu membawa keadilan. Menyalahkan pelaku habis-habisan belum tentu mendatangkan kedamaian.